Kondisi muntah darah atau secara medis dikenal dengan hematemesis merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan pada saluran cerna yang harus segera ditangani secara medis. Topik krusial mengenai kesehatan pencernaan ini dibahas tuntas dalam dialog interaktif program Dinamika Pagi di LPPL 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Rabu (9/9/2026), yang menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Daerah (RSD) Nganjuk, dr. Kysdarmanto, Sp.PD.
Dalam dialog yang dipandu penyiar Naylala tersebut, dr. Kysdarmanto menjelaskan bahwa penyebab tersering muntah darah di masyarakat adalah gastritis kronis serta tukak lambung dan usus dua belas jari (duodenum). Kebiasaan mengonsumsi makanan yang terlalu pedas, konsumsi alkohol, pola makan yang tidak teratur, hingga stres berlebihan dapat mengikis lapisan mukosa lambung hingga melukai pembuluh darah dan memicu perdarahan.
Selain masalah asam lambung, faktor risiko lain yang tergolong fatal adalah pecahnya varises di kerongkongan atau lambung pada penderita penyakit liver (hati kronis). Pada penderita sirosis atau liver menahun, pembuluh darah balik di sekitar saluran cerna bagian atas mengalami pembengkakan dan penipisan dinding pembuluh darah, sehingga sangat rapuh dan dapat pecah sewaktu-waktu.
dr. Kysdarmanto turut menyoroti kebiasaan masyarakat, terutama kalangan lansia, yang sering mengobati keluhan pegal linu atau rematik dengan membeli obat pereda nyeri golongan NSAID di apotek secara bebas atau meminum jamu seduh pabrikan tanpa resep. Jamu atau obat antinyeri yang dikonsumsi secara terus-menerus tanpa pengawasan medis memiliki efek samping mengikis lambung dan dapat memicu perdarahan masif hingga syok hipovolemik.
Kondisi radang dan luka lambung berat kini juga kian marak dialami kalangan remaja serta perempuan muda akibat pola diet ekstrem yang keliru. Kebiasaan menahan lapar seharian penuh, mengonsumsi obat pelangsing sembarangan, serta suplemen teh diet berlebihan tanpa membaca petunjuk pakai justru mengikis dinding saluran cerna dan berujung pada kerusakan lambung serius.
Sebagai langkah awal jika mendapati seseorang muntah darah, ia mengimbau agar pasien tidak langsung diberikan makanan padat, melainkan cukup cairan seperti air putih atau susu rendah lemak dan obat pereda asam lambung cair. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk membedakan antara batuk darah yang berasal dari paru-paru (berbusa/berlendir) dengan muntah darah murni yang bersumber dari saluran cerna.
Apabila volume muntah darah terbilang banyak dan berwarna merah segar, dr. Kysdarmanto meminta keluarga segera membawa pasien ke IGD rumah sakit terdekat. Langkah penanganan medis awal akan diprioritaskan untuk menghentikan perdarahan aktif serta mengganti cairan tubuh yang hilang melalui infus sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan guna mencari sumber penyebab utamanya.