Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terus mematangkan langkah strategis dalam tata kelola sumber daya air, baik dalam pemenuhan irigasi pertanian menghadapi musim kemarau maupun mitigasi risiko banjir luapan sungai. Hal tersebut diulas tuntas dalam program dialog interaktif di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Senin (7/9/2026).
Hadir sebagai narasumber dalam dialog tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Pengairan Dinas PUPR Nganjuk Rusdi Gunawan bersama Fungsional Teknik Pengairan Ahli Muda/Kasi Dinas PUPR Suyanto. Acara yang dipandu oleh penyiar Etna Laila ini mengangkat tema “Optimalisasi Pemanfaatan Air Bendungan Semantok dan Upaya Mengatasi Banjir Kali Kuncir Kabupaten Nganjuk”.
Kabid Pengairan Dinas PUPR Nganjuk, Rusdi Gunawan, menjelaskan bahwa Bendungan Semantok memiliki peran ganda yang krusial, yaitu sebagai pengendali banjir sekaligus tampungan air irigasi pertanian. Berdasarkan hasil evaluasi bersama Komisi Pendayagunaan Sumber Daya Air (SDA) Wilayah Sungai Brantas, elevasi tampungan per 27 Agustus 2026 berada pada angka +87,11 meter dengan volume tampungan mencapai lebih dari 10 juta meter kubik.
“Untuk memperluas jangkauan manfaat air, pada tahun anggaran 2026 ini akan dilaksanakan peningkatan jaringan irigasi di Intake Ngomben serta supresi saluran Widas Utara melalui program dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang rencananya mulai terealisasi pada Oktober mendatang,” ujar Rusdi.
Senada dengan hal itu, Fungsional Teknik Pengairan Ahli Muda, Suyanto, merinci bahwa saat ini Bendungan Semantok telah melayani daerah irigasi seluas 1.636 hektare. Layanan tersebut terbagi melalui dua intake:
Melalui rencana peningkatan saluran di hilir, jangkauan layanan irigasi diproyeksikan dapat bertambah hingga target awal 1.900 hektare lebih. Terkait prediksi BMKG mengenai musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga dekade ketiga November untuk wilayah Sawahan, Ngetos, Berbek, dan Loceret, serta awal Desember untuk kecamatan lainnya, PUPR bersama HIPPA, juru pengairan, dan UPTD PSDA terus mengintensifkan sistem giliran air agar petani tetap dapat menuntaskan Musim Tanam 3 (MT 3) dengan optimal.
Mengenai akses wisata Semantok, Rusdi turut meluruskan bahwa area tubuh bendungan merupakan objek vital negara yang memang dibatasi aksesnya demi faktor keamanan konstruksi, sementara sarana penunjang wisata di sekitarnya tetap dapat diakses publik.
Selain ketersediaan air irigasi, penanganan ancaman banjir di Kali Kuncir turut menjadi bahasan utama. Menurut Suyanto, sedimentasi tebal dan penyempitan alur sungai sepanjang 18,4 km (dari Dam Kuncir hingga muara Kali Kedungsuko) kerap menjadi kendala utama pemicu luapan (overtopping).
Guna menanggulangi persoalan tersebut, sejumlah langkah terintegrasi telah dan sedang dikerjakan:
Di akhir dialog, Dinas PUPR mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak membuang sampah, batang pisang, ataupun potongan bambu ke badan sungai dan saluran irigasi. Sampah yang tersangkut pada pilar jembatan maupun pintu air tidak hanya menghambat pembagian air ke persawahan, tetapi juga menjadi pemicu utama meluapnya air ke permukiman.
Warga juga diimbau untuk menaati aturan garis sempadan sungai dengan tidak mendirikan bangunan permanen di bantaran demi keselamatan dan keberlangsungan fungsi sungai.