Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Nganjuk terus memperkuat perannya dalam memberikan pelayanan sosial dan kemanusiaan kepada masyarakat. Selama ini PMI kerap identik dengan kegiatan donor darah, padahal tugas dan fungsinya mencakup berbagai bidang, mulai dari kesehatan, kebencanaan, pelayanan sosial, hingga kegiatan kemanusiaan lainnya.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Interaktif 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Rabu (5/8/2026), dengan tema “Tugas Pokok dan Fungsi PMI Kabupaten Nganjuk di Bidang Sosial dan Kemanusiaan”.
Dialog menghadirkan Luhur Budi Wahyono,Pengurus PMI Kabupaten Nganjuk, serta dr. Achmad Noeroel Cholis, Kepala Unit Donor Darah PMI Kabupaten Nganjuk. Dalam dialog tersebut, keduanya menjelaskan berbagai peran PMI sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Luhur menjelaskan bahwa PMI merupakan organisasi kemanusiaan yang bergerak dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, kebencanaan, pelayanan sosial, serta donor darah. Menurutnya, kegiatan donor darah yang selama ini sangat dikenal masyarakat merupakan salah satu bagian dari tugas PMI melalui Unit Donor Darah (UDD).
“Donor darah yang diwadahi oleh Unit Donor Darah itu adalah bagian dari PMI,” jelas Luhur.
Ia menerangkan, dalam struktur organisasi PMI terdapat Markas dan Unit Donor Darah dengan fokus pelayanan yang berbeda. Unit Donor Darah berfokus pada pelayanan donor darah, sedangkan Markas menangani berbagai kegiatan sosial, kebencanaan, dan kesehatan yang didukung oleh para relawan.
Selain pelayanan kesehatan dan donor darah, PMI Nganjuk juga terlibat dalam penanganan berbagai kondisi kebencanaan. Luhur menyebut, karakteristik bencana di Kabupaten Nganjuk relatif berbeda dengan daerah yang memiliki risiko bencana besar. Namun, sejumlah kejadian seperti puting beliung, longsor, kebakaran, hingga kekeringan tetap membutuhkan perhatian dan respons kemanusiaan.
Untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan, PMI Nganjuk juga melakukan distribusi air bersih. Dalam dialog disebutkan sejumlah wilayah yang mendapatkan penanganan terkait kekeringan, antara lain Kecamatan Jatikalen, Lengkong, Ngluyu, dan Ngetos, serta wilayah lainnya sesuai kebutuhan.
Penanganan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BPBD dan perangkat daerah terkait. Kolaborasi diperlukan agar bantuan dapat diberikan secara tepat berdasarkan pemetaan wilayah dan kebutuhan masyarakat.
Salah satu layanan sosial PMI yang turut disoroti dalam dialog adalah ambulans gratis. Layanan tersebut ditujukan terutama bagi masyarakat Kabupaten Nganjuk sebagai bagian dari upaya PMI membantu warga yang membutuhkan akses transportasi kesehatan.
Luhur menjelaskan, layanan ambulans gratis memiliki keterbatasan karena saat ini PMI masih memiliki satu kendaraan ambulans. Karena itu, pelayanan diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan fasilitas yang tersedia dan memprioritaskan warga Nganjuk.
Menurutnya, apabila masyarakat menggunakan jalur tol atas permintaan untuk mempercepat perjalanan, biaya tol menjadi tanggungan keluarga. Sementara layanan ambulans PMI sendiri diberikan secara gratis sesuai ketentuan dan kemampuan pelayanan yang tersedia.
Sementara itu, dr. Achmad menjelaskan kondisi ketersediaan darah di Kabupaten Nganjuk. Ia menyebut stok darah secara umum masih dapat memenuhi kebutuhan, namun terdapat beberapa golongan yang mulai menipis, khususnya golongan O dan AB. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi meningkatnya permintaan darah dari rumah sakit.
Menurutnya, pengelolaan stok darah harus dilakukan secara seimbang. PMI tidak bisa menyimpan darah dalam jumlah berlebihan karena darah memiliki masa simpan terbatas. Dalam dialog disebutkan darah yang telah dikumpulkan memiliki masa simpan sekitar 35 hari, sehingga stok harus terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
“Kalau berlebih, nanti tidak dibutuhkan, tidak dipakai, maka akan terbuang sia-sia,” jelas dr. Achmad.
Karena itu, ketika stok golongan tertentu mulai menipis, PMI akan menghubungi para pendonor yang sudah memasuki waktu donor untuk kembali melakukan donor darah.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Achmad juga mengajak masyarakat yang belum pernah donor darah untuk tidak takut mencoba. Ia menjelaskan bahwa proses donor dilakukan oleh tenaga yang kompeten dan setiap darah yang terkumpul akan melalui serangkaian pemeriksaan sebelum didistribusikan kepada rumah sakit.
Darah hasil donor terlebih dahulu diproses di laboratorium, termasuk pemeriksaan golongan darah dan skrining terhadap infeksi menular melalui transfusi darah. Setelah dinyatakan aman, darah kemudian disimpan dan didistribusikan kepada rumah sakit yang membutuhkan.
Ia juga menyampaikan bahwa donor darah dilakukan secara rutin, baik di dalam gedung UDD PMI maupun melalui mobil unit yang mendatangi desa, instansi pemerintah, TNI-Polri, hingga sekolah untuk peserta didik yang telah memenuhi persyaratan usia.
Untuk semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, PMI juga membuka layanan donor darah pada Sabtu dan Minggu pukul 08.00–12.00 WIB di sisi selatan Alun-Alun Nganjuk.
Melalui dialog interaktif tersebut, PMI Kabupaten Nganjuk berharap masyarakat semakin memahami bahwa keberadaan PMI tidak hanya berkaitan dengan donor darah. Berbagai layanan sosial, kesehatan, kebencanaan, ambulans gratis, distribusi bantuan, hingga keterlibatan relawan menjadi bagian dari upaya PMI hadir membantu masyarakat dalam berbagai situasi.
Pada saat yang sama, PMI Nganjuk mengajak masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan, salah satunya melalui donor darah secara sukarela. Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor, pelayanan kemanusiaan di Kabupaten Nganjuk diharapkan dapat terus diperkuat dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan.