Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Nganjuk terus mendorong generasi muda, khususnya pemilih pemula, agar memiliki pemahaman politik yang baik dan mampu menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab. Edukasi tersebut disampaikan dalam Dialog Interaktif 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM), Senin (3/8/2026).
Mengangkat tema “Mewujudkan Pemilih Pemula yang Cerdas”, dialog tersebut menghadirkan Atim Swasono, Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan Bakesbangpol Kabupaten Nganjuk sebagai narasumber.
Dalam dialog, Atim menjelaskan bahwa pemilih pemula menjadi kelompok yang penting mendapatkan pendidikan politik karena sebagian dari mereka baru pertama kali menggunakan hak pilih. Generasi muda, khususnya Gen Z, dinilai perlu dibekali pemahaman agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, politik uang, maupun informasi yang menyesatkan di media sosial.
Menurutnya, Bakesbangpol Nganjuk secara berkelanjutan melakukan pendidikan politik ke sekolah sebagai upaya membangun pemilih pemula yang cerdas. Kegiatan tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan berbagai elemen terkait.
“Sebagai pelajar, kalian adalah anak bangsa, tetapi jangan lupa bahwa kalian juga memiliki hak pilih. Satu suara sangat berarti bagi bangsa,” ujar Atim dalam dialog tersebut.
Ia menegaskan, pemilih pemula perlu memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan pengetahuan dan pertimbangan pribadi, bukan karena ajakan, tekanan, ataupun pemberian tertentu. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah mengenali profil, visi-misi, serta rekam jejak calon pemimpin sebelum menentukan pilihan.
Perkembangan media sosial menjadi perhatian tersendiri dalam pendidikan politik bagi generasi muda. Berbagai informasi mengenai politik dapat dengan mudah ditemukan melalui platform digital, termasuk konten yang belum tentu benar.
Atim mengingatkan pemilih pemula agar mampu melakukan penyaringan informasi dan tidak langsung mempercayai konten yang beredar. Perbedaan pilihan politik juga harus disikapi secara dewasa dengan tetap menghargai pilihan orang lain.
“Pilih sesuai dengan apa yang ada di pikiranmu, pilih sesuai dengan hati nuranimu dan tidak ada yang mempengaruhi dirimu,” pesannya.
Ia juga menegaskan bahwa dukungan terhadap calon melalui media sosial pada prinsipnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi, selama dilakukan sesuai aturan dan tidak digunakan untuk menebarkan kebencian maupun menjatuhkan pihak lain.
“Yang penting jangan menjelek-jelekkan orang lain. Berlomba dalam kebaikan,” tegasnya.
Untuk membuat pendidikan politik lebih mudah diterima generasi muda, Bakesbangpol Nganjuk juga mengembangkan metode edukasi yang lebih interaktif. Salah satunya melalui konsep learning by gaming, yakni belajar sambil bermain.
Atim menjelaskan, materi pendidikan politik dikemas dalam bentuk permainan, salah satunya permainan ular tangga yang memuat materi mengenai demokrasi dan tahapan pemilu. Dengan metode tersebut, peserta didik tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dapat memahami proses demokrasi melalui permainan yang lebih menyenangkan.
Selain itu, Bakesbangpol juga berkolaborasi dengan KPU dalam memberikan pemahaman mengenai tata cara pemungutan suara dan berbagai perlengkapan pemilu. Edukasi tersebut diharapkan membuat pemilih pemula tidak merasa asing ketika nantinya menggunakan hak pilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Dalam dialog tersebut, Atim juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak yang baru pertama kali menggunakan hak pilih. Orang tua dapat membantu memberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan hak suara sekaligus mengarahkan anak untuk mencari informasi mengenai calon melalui sumber yang dapat dipercaya.
Ia juga mengingatkan pemilih pemula untuk memastikan statusnya dalam daftar pemilih serta mengetahui lokasi TPS sebelum hari pemungutan suara.
Sementara itu, terkait anggapan bahwa politik merupakan sesuatu yang kotor dan tidak perlu diikuti, Atim mengajak masyarakat melihat politik secara lebih positif. Menurutnya, politik dapat menjadi sarana menghadirkan kebaikan apabila dijalankan sesuai aturan dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Kalau kebaikan kita bisa berdampak bagi semuanya, khususnya Nganjuk ke depan, kenapa tidak kita berdampak,” ungkapnya.
Menutup dialog, Atim mengajak seluruh pemilih pemula untuk menggunakan hak pilih dengan penuh tanggung jawab. Generasi muda diharapkan tidak memilih karena ikut-ikutan, tidak terpengaruh hoaks maupun politik uang, serta tetap menghargai perbedaan pilihan.
Ia berharap pendidikan politik yang dilakukan sejak dini dapat melahirkan generasi yang mampu berpartisipasi dalam demokrasi secara sehat dan turut menentukan arah pembangunan bangsa.
“Pilihlah pemimpin yang amanah dan jujur, dan pastikan kamu tidak ikut dalam kelompok golput ataupun terpengaruh hoaks,” pesannya.
Dialog interaktif RSAL FM tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi publik bahwa menjadi pemilih cerdas tidak hanya tentang datang ke TPS dan memberikan suara, tetapi juga memahami informasi politik, mengenali calon, menolak hoaks dan politik uang, menghargai perbedaan pilihan, serta menggunakan hak suara secara bertanggung jawab.