Sedang Memuat...
Diskominfo Nganjuk | Menyatukan | Melayani

Detail Berita

Evaluasi Cuaca Juni & Antisipasi El Nino 2026, BMKG Nganjuk Ajak Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan

2026-07-08 Admin

Evaluasi Cuaca Juni & Antisipasi El Nino 2026, BMKG Nganjuk Ajak Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan

Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) kembali menghadirkan program dialog interaktif yang memberikan edukasi kepada masyarakat. Pada Selasa (7/7/2026), RSAL FM bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Nganjuk mengangkat tema "Evaluasi Cuaca Bulan Juni dan Analisis Dinamika Atmosfer untuk Kesiapsiagaan Menghadapi El Nino Tahun 2026 di Kabupaten Nganjuk."

Hadir sebagai narasumber, Setiyaris, selaku Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, yang memaparkan perkembangan kondisi cuaca sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai dampak fenomena El Nino terhadap berbagai sektor kehidupan.

Dalam pemaparannya, Setiyaris menjelaskan bahwa selama Juni 2026 Kabupaten Nganjuk mengalami kondisi cuaca yang relatif kering. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, curah hujan di wilayah Nganjuk tercatat nihil selama sekitar satu bulan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dominasi angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering sehingga pembentukan awan hujan menjadi sangat terbatas.

"Selama Juni 2026, curah hujan di Kabupaten Nganjuk tercatat nihil. Angin dari Australia yang bersifat kering mendominasi wilayah kita sehingga hujan sangat sulit terbentuk," jelas Setiyaris.

Selain minimnya curah hujan, BMKG juga mencatat suhu udara rata-rata berada di kisaran 24 derajat Celsius dengan suhu maksimum mencapai sekitar 30,4 derajat Celsius. Kelembapan udara masih berada pada kategori sedang, namun meningkatnya kecepatan angin dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.

Setiyaris menerangkan bahwa peningkatan kecepatan angin dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, termasuk keberadaan sistem siklon tropis di kawasan Pasifik Barat yang turut memengaruhi pola angin di Indonesia.

Dalam dialog tersebut, BMKG juga menjelaskan perkembangan fenomena El Nino yang diprediksi mulai memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan hasil pemantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, anomali suhu telah bertahan selama tiga bulan berturut-turut sehingga mengindikasikan terjadinya fenomena El Nino.

Fenomena tersebut diperkirakan menyebabkan penurunan curah hujan sekitar 20 hingga 40 persen di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Akibatnya, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

"Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan lebih kering. Curah hujan berada di bawah normal sehingga masyarakat perlu mulai melakukan langkah antisipasi sejak sekarang," ujarnya.

Menurut Setiyaris, sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling terdampak. Berkurangnya ketersediaan air berpotensi memengaruhi pola tanam dan produktivitas hasil pertanian. Karena itu, para petani diimbau menyesuaikan jenis tanaman maupun jadwal tanam dengan mempertimbangkan kondisi cuaca yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Selain pertanian, El Nino juga berpotensi memengaruhi sektor energi, khususnya pembangkit listrik tenaga air akibat menurunnya debit bendungan. Dampak lainnya dapat dirasakan pada sektor pangan, kesehatan masyarakat akibat meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman saat kondisi cuaca semakin panas dan kering.

Meski demikian, Setiyaris mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial mengenai istilah "El Nino Godzilla". Menurutnya, istilah tersebut bukan merupakan istilah ilmiah dalam meteorologi dan hanya digunakan untuk menggambarkan kuatnya fenomena El Nino pada tahun-tahun tertentu.

"Masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting adalah memahami informasi resmi dari BMKG dan melakukan langkah mitigasi sesuai kondisi yang ada," tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa fenomena El Nino tidak selalu membawa dampak negatif. Bagi petani garam, musim kemarau panjang justru dapat meningkatkan kualitas produksi. Sementara di sektor perikanan, fenomena upwelling di perairan dapat meningkatkan populasi ikan sehingga hasil tangkapan nelayan berpotensi bertambah. Untuk komoditas bawang merah di Kabupaten Nganjuk, kondisi cuaca kering dengan pengelolaan irigasi yang baik juga dinilai mampu menghasilkan kualitas panen yang lebih optimal.

Menutup dialog interaktif, BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air, menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca, tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan saat angin kencang, serta terus memantau informasi resmi yang dikeluarkan BMKG.

Melalui dialog interaktif ini, RSAL FM bersama BMKG Kabupaten Nganjuk berharap masyarakat semakin memahami dinamika cuaca dan perubahan iklim sehingga mampu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau serta fenomena El Nino tahun 2026 secara bijak dan terukur.

×
Kontak Kami

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nganjuk

Jl. Merdeka No. 21, Nganjuk 64419
diskominfo@nganjukkab.go.id
(0358) 61 11 87

🔍 Lihat Peta