Sedang Memuat...
Diskominfo Nganjuk | Menyatukan | Melayani

Detail Berita

Remaja Kota Angin Jadi Incaran Pasar Global, DPPKB Nganjuk Minta Pemuda Benteng Mandiri dari Narkoba

2026-07-07 Admin

Remaja Kota Angin Jadi Incaran Pasar Global, DPPKB Nganjuk Minta Pemuda Benteng Mandiri dari Narkoba

Kualitas sebuah bangsa di masa depan sangat ditentukan oleh bagaimana negara tersebut mengelola serta mendesain cetak biru kehidupan generasi mudanya hari ini. Memasuki era bonus demografi, pemuda tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton pasif melainkan harus berdaya, produktif, serta siap mengambil alih estafet kepemimpinan saat terjadi pergantian generasi.

Guna membangun kesadaran kolektif tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Nganjuk menggelar dialog interaktif dalam program Dinamika Pagi di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Senin, 6 Juli 2026.

Siaran edukatif menyambut Hari Penduduk Sedunia (yang diperingati setiap 11 Juli) ini menghadirkan Kepala Bidang Pengendalian Penduduk serta Sistem Informasi Keluarga Dinas PPKB Nganjuk, dr. Suyanto Cipto Atmojo (Pak Cipto), sebagai narasumber utama.

Membuka sesi dialog, dr. Cipto memaparkan tantangan berat yang dihadapi remaja masa kini. Tema global Hari Penduduk Sedunia tahun ini berfokus pada Empowering Young People atau pemberdayaan penduduk usia muda. Pemuda dituntut memiliki peta jalan (roadmap) karir yang jelas serta tangguh menghadapi infiltrasi negatif luar, termasuk perdagangan narkoba transnasional.

"Tantangan kedepan semakin rumit. Saat ini ada info peredaran jutaan ton daun ganja dari Thailand yang menjadikan remaja sebagai target segmen pasar utama. Jika pemuda kita hanya berkumpul-kumpul membuang waktu tanpa tujuan, mereka akan mudah terjebak mengambil keputusan instan masuk ke dunia kelam tersebut. Remaja harus mengelola komunitas positif untuk membangun benteng mental yang kuat," urainya.

Dinas PPKB juga menyoroti pentingnya Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Sesuai anjuran pusat, usia ideal menikah adalah minimal 21 tahun untuk wanita serta 25 tahun untuk laki-laki. Kematangan usia ini krusial agar pasangan menyelesaikan pendidikan serta matang secara ekonomi serta mental sebelum membangun mahligai rumah tangga. Pernikahan yang tidak siap rawan memicu konflik, kekerasan, hingga perceraian yang sulit terurai.

dr. Cipto menyodorkan data riil hasil potret Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pendataan Keluarga tahun 2025 mengenai kondisi demografi di Kabupaten Nganjuk, antara lain:

  • Total Penduduk Nganjuk: Mencapai 1.154.809 jiwa, dengan rincian gender yang sangat seimbang, yakni laki-laki sebesar 50,26% serta perempuan 49,74%.
  • Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP): Berada di angka 0,56% serta masuk kategori tumbuh seimbang. Momentum emas ini harus dijawab dengan kesiapan investasi daerah agar pemuda produktif dapat diserap di pasar kerja lokal serta tidak melakukan migrasi ke luar kota.
  • Angka Pernikahan Dini: Sebanyak 75% atau sekitar 126.000 warga Nganjuk telah sadar untuk menikah di atas usia 20 tahun. Kendati demikian, angka pernikahan di bawah usia 20 tahun masih menyentuh 40.020 kasus, dengan sebaran angka tertinggi berada di wilayah pinggiran seperti Kecamatan Ngluyu serta Ngetos akibat faktor geografis serta minimnya literasi keluarga.

Sebagai langkah konkret memutus rantai pernikahan dini serta kebodohan, Dinas PPKB Nganjuk meluncurkan program Sekolah Siaga Penduduk (SSK). Dari target 1.005 sekolah, saat ini baru sekitar 183 lembaga pendidikan mulai dari jenjang MI/SD, SMP/MTs, hingga SMA/SMK yang aktif membangun ekosistem sadar kependudukan.

Di dalam sekolah SSK disediakan fasilitas Pojok Kependudukan sebagai ruang diskusi siswa mengenai isu makro seperti stunting, kesehatan reproduksi, energi, hingga inflasi daerah. Materi kependudukan ini dilebur ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru serta kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka serta Pecinta Alam.

Siswa juga dilatih mengelola lingkungan sekolah lewat rasi sampah plastik dengan membawa tumbler serta mengonversi sisa makanan organik menjadi kompos tanaman. dr. Cipto menyebut beberapa sekolah telah sukses meraih penghargaan predikat SSK Paripurna dari Menteri Kependudukan, di antaranya SMAN 2 Nganjuk (tahap verifikasi), SMPN 2 Nganjuk (peraih paripurna pertama sejak 2023), SMPN 3 Nganjuk, serta MTs Aisyiyah Nganjuk. Karena keterbatasan anggaran, sekolah lain diimbau aktif mengajukan diri untuk dibina menjadi sekolah SSK.

Dinas PPKB Nganjuk juga menggulirkan dua program terobosan untuk memperkuat ketahanan keluarga menghadapi tantangan zaman, yaitu:

  1. Program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia): Mengikis paradigma keliru bahwa pengasuhan anak serta urusan mengambil rapor adalah tanggung jawab ibu semata. Program kesetaraan gender ini mengoptimalkan peran ayah dalam mendidik anak. Saat ini, perwakilan ayah dari Nganjuk tengah berkompetisi di tingkat nasional mewakili Provinsi Jawa Timur bersama empat provinsi lainnya.
  2. Program TAMASA (Tempat Penitipan Anak Terstandarisasi): Menjawab kebutuhan wanita karir modern melalui penyediaan fasilitas penitipan anak yang memiliki sertifikasi resmi serta pengasuh terlatih, menggantikan metode penitipan tradisional keluarga yang minim edukasi keselamatan.

"Menuju Indonesia Emas 2045, kami titipkan masa depan daerah kepada para remaja Nganjuk. Manfaatkan masa SMP serta SMA ini untuk mengukir prestasi, kuasai teknologi pertanian modern menggunakan gawai serta robotik, serta jadilah petani digital yang mampu menjaga lumbung pangan Jawa Timur," tutup dr. Cipto.

×
Kontak Kami

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nganjuk

Jl. Merdeka No. 21, Nganjuk 64419
diskominfo@nganjukkab.go.id
(0358) 61 11 87

🔍 Lihat Peta