Pendidikan bagi generasi penerus bangsa idealnya tidak hanya berfokus pada pembangunan kecerdasan intelektual, melainkan juga harus menyentuh ranah spiritual, pembentukan karakter, serta akhlak mulia. Madrasah hadir sebagai lembaga pendidikan alternatif yang mengintegrasikan pencapaian akademik nasional dengan pemantapan nilai-nilai keagamaan secara komprehensif.
Guna mengedukasi masyarakat mengenai keunggulan tata pengajaran agama dan mekanisme penerimaan santri baru, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Nganjuk menggelar dialog interaktif program Dinamika Pagi di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Rabu, 17 Juni 2026. Dialog bertajuk "Penerimaan Murid Baru Madrasah" ini menghadirkan dua narasumber pengawas madrasah Kemenag Nganjuk, yaitu Riza Firdausi dan Indyanti.
Tim Pengawas Kemenag Nganjuk, Riza Firdausi, menjelaskan bahwa seluruh jenjang madrasah di Kabupaten Nganjuk—mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA)—kini mengadopsi sistem pengajaran yang diinsersikan dengan karakter kasih sayang. Karakter ini dijabarkan ke dalam lima pilar utama yang disebut Panca Cinta, yaitu:
"Penerapan Panca Cinta ini diintegrasikan ke dalam seluruh kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, sarta budaya madrasah sehari-hari dengan menyesuaikan karakteristik usia anak," terang Pak Riza.
Bu Indy memaparkan bahwa teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB/PMB) mengacu pada SK Dirjen Pendis Nomor 10041 Tahun 2025. Proses pendaftaran sejatinya telah dibuka secara mandiri oleh masing-masing madrasah sejak bulan Januari atau Februari 2026 melalui berbagai jalur, seperti jalur prestasi sarta reguler.
"Beberapa madrasah favorit bahkan kuotanya sudah terpenuhi sejak bulan Maret karena tingginya animo wali murid. Namun, bagi orang tua yang masih berproses mencari sekolah, pendaftaran luar jaringan (luring) maupun daring masih dilayani hingga menjelang tahun ajaran baru yang akan dimulai serentak pada 13 Juli 2026," urai Bu Indy.
Untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), Kabupaten Nganjuk memiliki 10 lembaga sekolah yang tersebar di berbagai wilayah, di antaranya :
· MTsN 1 Nganjuk di Nglawak, Kertosono.
· MTsN 2 Nganjuk di Tanjunganom.
· MTsN 3 Nganjuk di Prambon (dahulu bernama MTs Tanjungtani).
· MTsN 4 Nganjuk di Termas, Baron.
· MTsN 5 Nganjuk di pusat Kota Nganjuk (dekat SMK Kosgoro).
· MTsN 6 Nganjuk di Ngronggot.
· MTsN 7 Nganjuk di Kacangan, Berbek.
· MTsN 8 Nganjuk di Lengkong (poros utara).
· MTsN 9 Nganjuk di Juwet, Ngronggot.
· MTsN 10 Nganjuk di Bagor.
Sementara untuk jenjang Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Kemenag menaungi 3 lembaga, yakni MAN 1 Nganjuk (Nglawak), MAN 2 Nganjuk (Kota), dan MAN 3 Nganjuk (Prambon). Menariknya, MAN 3 Nganjuk bertransformasi menjadi Madrasah Aliyah Keterampilan yang membekali santri dengan keahlian praktis layaknya SMK, seperti bidang otomotif, tata busana, sarta tata boga melalui fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK).
Untuk tingkat dasar, Nganjuk memiliki 180 Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta sarta 11 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Di antaranya adalah MIN 1 Nganjuk di Kedungombo (Tanjunganom), MIN 2 Nganjuk (dahulu MIN Nanggungan) di Watudandang (Prambon), MIN 3 Nganjuk di Ngronggot, MIN 5 Nganjuk di Baron, MIN 6 Nganjuk di Cengkok (Ngronggot), serta MIN 10 Nganjuk di Wilangan.
Kemenag juga menegaskan bahwa alternatif pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada madrasah, melainkan juga pondok pesantren. Melalui program pendidikan formal keagamaan seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah, ijazah kelulusan pesantren kini telah disetarakan penuh oleh negara serta legal untuk digunakan mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
"Banyak lulusan madrasah serta pesantren di Nganjuk yang terbukti mampu bersaing ketat dan lolos ke berbagai universitas negeri melalui jalur rapor maupun tes, bahkan ada yang masuk TNI lewat jalur prestasi tahfidz," imbuh Pak Riza.
Menutup dialog, jajaran pengawas Kemenag Nganjuk mengimbau para orang tua agar proaktif mendekati madrasah idola mereka sebelum kuota rombongan belajar (rombel) ditutup sepenuhnya. Sesuai dengan semboyan kebanggaan: "Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia", Kemenag siap mendidik putra-putri daerah menjadi generasi yang unggul secara intelektual sarta berakhlakul karimah.