Sedang Memuat...
Diskominfo Nganjuk | Menyatukan | Melayani

Detail Berita

BMKG Nganjuk Ingatkan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem Jelang Peralihan Musim di Wilayah Kota Angin

2026-04-22 Admin

BMKG Nganjuk Ingatkan Kewaspadaan Cuaca Ekstrem Jelang Peralihan Musim di Wilayah Kota Angin

Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) 105,3 kembali menghadirkan program dialog interaktif “Dinamika Pagi” pada Rabu (22/4/2026) dengan tema Informasi Awal Musim Kemarau dan Kesiapsiagaan Menghadapi El Nino 2026. Dialog ini menghadirkan narasumber dari BMKG Nganjuk, pengamat meteorologi dan geofisika ahli madya, Setiyaris, yang memberikan pemaparan komprehensif terkait dinamika cuaca dan iklim di wilayah Kabupaten Nganjuk.

Dalam pemaparannya, Setiyaris menjelaskan bahwa pada akhir April 2026, wilayah Nganjuk masih berada dalam masa peralihan menuju musim kemarau. Kondisi cuaca yang masih diwarnai hujan disebabkan adanya gangguan atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuatorial Rossby yang memicu terbentuknya tekanan rendah di selatan Pulau Jawa. Hal ini menyebabkan atmosfer menjadi labil dan memicu pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah.

“Interaksi dua gangguan tersebut menyebabkan pola angin tidak teratur dan memicu hujan di beberapa wilayah Jawa Timur, termasuk Nganjuk. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan,” jelas Setiyaris.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa awal musim kemarau di Kabupaten Nganjuk tahun 2026 diprediksi akan dimulai pada Mei dasarian pertama. BMKG membagi wilayah Nganjuk ke dalam tiga zona musim, namun seluruhnya diperkirakan memasuki musim kemarau pada periode yang relatif serempak.

Terkait fenomena El Nino, Setiyaris menegaskan bahwa kondisi ini merupakan pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia. Untuk tahun 2026, El Nino diprediksi berada pada kategori lemah hingga moderat, namun tetap berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih kering dan panjang.

“Dampaknya bisa berupa penurunan curah hujan hingga 20–40 persen, peningkatan suhu udara, serta bertambah panjangnya hari tanpa hujan. Bahkan pada kondisi ekstrem, beberapa wilayah bisa mengalami kekeringan hingga lima sampai enam bulan,” ujarnya.

Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang juga diprediksi terjadi pada pertengahan tahun turut memperparah kondisi kekeringan karena massa udara di wilayah Indonesia tertarik ke arah barat dan timur secara bersamaan.

Dalam dialog tersebut, BMKG juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, khususnya sektor pertanian. Petani diimbau untuk menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan guna meminimalisir risiko gagal panen.

“Manfaatkan sisa hujan yang masih ada saat ini untuk menyimpan cadangan air, seperti mengisi embung dan memaksimalkan resapan. Ini penting sebagai langkah mitigasi menghadapi puncak musim kemarau,” tambahnya.

Di akhir sesi, Setiyaris juga mengingatkan masyarakat agar selalu mengakses informasi resmi dari BMKG melalui website, media sosial, maupun aplikasi Info BMKG guna memperoleh update cuaca dan iklim yang akurat serta terhindar dari informasi yang tidak valid.

Melalui dialog ini, diharapkan masyarakat Nganjuk semakin memahami karakteristik musim kemarau 2026 dan mampu melakukan langkah antisipatif secara tepat, sehingga dampak kekeringan dan perubahan iklim dapat diminimalisir.

×
Kontak Kami

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nganjuk

Jl. Merdeka No. 21, Nganjuk 64419
diskominfo@nganjukkab.go.id
(0358) 61 11 87

🔍 Lihat Peta