Dalam rangka menuju Three Zero 2030 Komisi Pemberantasan Aids (KPA) Kabupaten Nganjuk terus berupaya memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya bagaimana mereka menyikapi jika terdapat seseorang yang terkena HIV/Aids. Demikian disampaikan oleh Triono dari KPA Nganjuk saat mengisi program acara talkshow Beranda Kominfo, Kamis (27/7/2023) di Studio 105,3 RSAL FM.
Dipandu host Asty Hanifa, Triono menyampaikan bahwa konsep Three Zero 2030 yakni bahwa tidak ada lagi tiga hal berikut, pertama tidak ada lagi penularan HIV/Aids, tidak ada lagi kematian karena HIV/Aids, dan tidak ada lagi stigma dan diskriminasi yang terjadi di lingkungan sekitar penderita HIV/Aids.
“Jadi, kita memberikan pengertian, pemahaman kepada warga masyarakat khususnya bagaimana mereka menyikapi kalau ada seseorang yang terkena HIV/Aids. Memahami bagaimana penularannya, artinya nanti kalau seseorang yang terkena HIV/Aids orang itu tidak memberikan stigma negatif atau diskriminasi,” tuturnya.
Triono mengatakan ada banyak hal yang telah diupayakan oleh KPA Nganjuk diantaranya memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi ke desa-desa/pelosok, ke sekolah-sekolah, organisasi-organisasi di masyarakat.
“Untuk saat ini, KPA Nganjuk gencar sekali melakukan sosialisasi kepada masyarakat khususnya di desa-desa atau pelosok-pelosok. Target kita semua desa/kelurahan di Nganjuk semua harus sudah mendapat sosialisasi terutama ke ibu-ibu kader PKK, perangkat desa, tokoh masyarakat. Yang terakhir, kemarin kita memberikan sosialisasi kepada kelompok masyarakat atau organisasi masyarakat dari segala lini dan segmen masyarakat,” terangnya.
“Kita kemarin juga di SMK waktu Masa Orientasi siswa (MOS), kita memberikan sosisalisasi kemudian kita melakukan dialog interaktif dengan siswa untuk memberikan pemahaman kepada adik-adik sekolah, ini upaya sedini mungkin kita lakukan,” imbuhnya.
Kepada Miarsa, Triono lantas menginformasikan mengenai data perkembangan kasus HIV/Aids di Kabupaten Nganjuk pada tahun 2023 ini. Menurutnya, yang terbanyak adalah penularan melalui hubungan seksual dengan prosentase 97 persen.
“Untuk saat ini hingga bulan Juni 2023, sudah ada 160 kasus yang ditemukan di Kabupaten Nganjuk di rentan usia mulai dari 18 – 50 tahun. Untuk tahun ini saja, usia 25-49 tahun itu paling tinggi dibandingkan usia lainnya. Temuan total di Kabupaten Nganjuk ada 2023 yang paling banyak 97% melalui hubungan seksual. HIV itu tidak mudah begitu menular kecuali orang yang melakukan perilaku yang beresiko seperti kerap berganti pasangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Delya Lucyana staf KPA Nganjuk menambahkan, sebenarnya ada beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan oleh para remaja yang dipersiapkan agar ditahun 2030 benar-benar menjadi Three Zero 2030. Seperti menggunakan stigma, kemudian mengetahui bagaimana cara HIV itu sendiri menular, sehingga mereka bisa berhati-hati dalam menuai atau menjalankan masa remaja mereka.
“Kalau kami dari KPA, karena gencar melakukan sosialisasi kita selalu menyampaikan tentang bagaimana HIV/Aids itu menular dan tidak menular. Jadi, lebih memberikan pemahaman dengan cara tidak berjabat tangan, berpelukan, dan sebagainya. Jadi, itu bentuk pencegahan yang kami lakukan dengan memberikan pengarahan ke mereka bahwa Hiv / Aids itu sendiri tidak perlu dijauhi orangnya tapi penyakitnya,” jelasnya.
Delya juga memberikan edukasi kepada para orang tua bagaimana agar sang buah hati jauh dari HIV/Aids sejak dini. Karena orang tua sangat mempengaruhi pergaulan anak-anaknya bagaimana menerapkan perilaku yang baik dan menjauhi perilaku yang buruk dengan berdasarkan kepercayaan/agama.
“Sebagai orang tua kita bisa mulai dari agamanya, karena Hiv/Aids merupakan perbuatan yang menyimpang dari norma. Jadi menurut saya, orang tua perlu menanamkan sisi agama kepada anak mereka. Kalau dari keluarga, kita bisa menjaga komunikasi dengan anak-anak jangan sampai mereka jauh dari orang tua mereka. Kalau jauh dari orang tuanya itu juga sangat berbahaya bagi anak-anak khususnya yang masih remaja,” pungkasnya.