Dalam rangka mengatasi kelangkaan dan mengurangi penggunaan pupuk kimia bersubsidi di wilayah Kecamatan Berbek, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Berbek bersama Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Berbek berinisiasi untuk membuat pupuk hayati plus zat perangsang tumbuh (ZPT) dengan mengajak sahabat tani Berbek. Hal ini disampaikan oleh Nasir selalu koordinator BPP Berbek saat mengisi acara talkshow Beranda Kominfo dengan tema 'Pupuk Hayati Plus ZPT Pembenahan Tanah Solusi Kelangkaan Pupuk Anorganik Bersubsidi', Senin(30/10/2022) malam.
Dipandu host Asty Hanifah, Nasir mengatakan bahwa ide ini sudah ada sejak 2 tahun lalu. Pupuk hayati plus ZPT itu dibuat dari bahan-bahan ramah lingkungan dan juga mudah didapat. "Kami membuat pupuk hayati plus ZPT ini dari bahan-bahan yang ramah lingkungan yaitu bahan aktif yang mengandung sitokinin, auksin, giberilin", ungkapnya.
Dijelaskan Nasir bahwa auksin sendiri didapatkan bahannya dari tanaman tauge, sedangkan giberilin diambil dari tanaman bawang merah dan rebung. Lalu untuk sitokinin didapatkan dari air kelapa dan jagung muda. "Bahan bahan tersebut kami ekstrak dan fermentasi sehingga menjadi pupuk hayati yang mengandung zat perangsang tumbuh serta ada sedikit bakteri setelah pupuk hayati ZPT ini jadi kemudian kita lanjutkan proses untuk menjadikan photosynthetic bacteria (PSB)", urai Nasir.
Nasir menyampaikan untuk penggunaan pupuk hayati ini tentu membutuhkan proses adaptasi peralihan dari penggunaan pupuk kimia bersubsidi yang pastinya tidak serta merta langsung bisa sepenuhnya beralih. "Sehingga perlahan petani kita dorong untuk menggunakan pupuk hayati ke tanamannya karena pupuk ini sehat untuk tanaman juga sehat untuk lingkungan", pungkasnya.
Sementara itu, Bima Jati Pambayun selaku pengurus KTNA Berbek mengungkapkan bahwa KTNA Berbek terbentuk pada 2021 akhir dengan jumlah anggota 8 orang. Kemudian ia bekerjasama dengan BPP Berbek melalui musyawarah mufakat bagaimana mengatasi ketergantungan dan kelangkaan pupuk kimia bersubsidi di wilayah Kecamatan Berbek.
"Pada kenyataanya kebutuhan tanaman di Kecamatan Berbek atas pupuk kimia bersubsidi ini cukup tinggi. Untuk itu kita buat inovasi memberikan alternatif kepada kelompok tani untuk pembuatan pupuk hayati dengan tujuan mengurangi beban petani yang ketergantungan pada pupuk bersubsidi", terang Bima.
Kemudian dalam proses pembuatannya dijelaskan Bima membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan. Ada berbagai manfaat didalamnya diantaranya yakni dapat menambahkan nitrogen pada tanaman, membantu proses fotosintesis tanaman, mempercepat pertumbuhan tanaman, sumber mineral asam amino, meningkatkan kualitas tanaman, meningkatkan pertumbuhan akar tanaman, mengurangi biaya hingga 50 persen, dan menguatkan tanaman dari serangan organisme tanaman.
"Pupuk hayati ini kita buat sesuai dengan kebutuhan tanaman yang ada di Kecamatan Berbek seperti padi, jagung dan tanaman holtikultura lainnya. Sehinga marilah kita para petani di Kabupaten Nganjuk untuk bersama-sama berkolaborasi, berinovasi dalam pembuatan pupuk hayati plus ZPT ini dalam upaya mengurangi 50 persen penggunaan pupuk kimia", ajaknya.
Disisi lain Wardi selaku petani mengaku bahwa sebelum ia mengenal pupuk hayati tersebut dulu tergantung pada penggunaan pupuk kimia bersubsidi. Karena kesulitan mendapatkan pupuk kimia bersubsidi maka Wardi mempunyai inisiatif untuk berkonsultasi kepada BPP Berbek bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Akhirnya dirinya bersama sahabat tani di Kecamatan Berbek mendapatkan solusi yakni pupuk hayati plus ZPT yang ia aplikasikan pertama kali pada tanaman padi jenis MT-2. Hal itu berbeda dengan tanaman jagung yang ternyata membutuhkan dosis 2 kali lipat dari tanaman padi tersebut.
"Alhamdulillah dengan adanya pupuk hayati ini kami petani bisa menghemat penggunaan pupuk kimia pada tanaman padi hampir 50 persen dan hasil panennya lebih sehat dan berkualitas", ujar Wardi.