Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk melalui UPTD Puskesmas Loceret berbagi informasi mengenai Penyakit Frambusia atau dalam bahasa jawa sering disebut dengan penyakit Pathek melalui program acara Ngobrol Asik Kesehatan 'Ngobras' 105,3 RSAL FM dipandu host Asti Hanifa, Selasa(25/10/2022).
Dalam paparannya, dr. Devi Lia Yana Maysa selaku Dokter Fungsional di Puskesmas Loceret menyampaikan Frambusia atau biasa juga disebut Pathek atau Buba merupakan penyakit kulit yang mudah menular dengan jangka panjang (kronis) yang umumnya terjadi di daerah tropis. Hal tersebut disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum, bakteri tersebut akan menyerang kulit di bagian tungkai bawah kaki dan dapat juga menyerang pada tulang dan periosteum.
“Rata-rata penyakit frambusia menyerang anak-anak dengan usia mulai kurang dari lima tahun. Penyakit ini erat kaitannya dengan hygiene sanitasi. Biasanya terjadi di sosial ekonomi rendah, daerah-daerah yang kumuh dan kotor,”jelasnya.
Devi mengatakan frambusia biasanya ditularkan melalui kontak langsung dengan luka kulit yang terinfeksi dari individu yang terkena. Dalam beberapa kasus, frambusia dapat ditularkan melalui gigitan serangga yang terinfeksi.
“Penularannya dari lukanya, kan keluar cairan. Jika mengenai kulit orang lain, walaupun kulitnya hanya tergores atau gatal itu ada sedikit lecet dan terkena cairan di kulit, maka akan tertular. Tapi kalau kulitnya sehat tidak bisa. Atau dibawa oleh serangga seperti lalat juga bisa tertular, nah kalau lalat hubungannya dengan kebersihan lingkungan kita,” ujar Devi.
Menurut Devi, manifestasi klinis Frambusia terbagi dalam beberapa stadium perkembangan, yang ditunjukkan dalam perubahan bentuk lesi yaitu lesi primer, lesi sekunder, dan lesi tersier. Untuk lesi primer dengan jangka waktu 21 hari akan timbul penyakit kulit seperti benjolan dan berair. Kemudian lesi sekunder, akan sembuh sementara dan akan timbul lagi dua sampai lima tahun, tergantung imunitas. Dan yang terakhir lesi tersier dengan jangka waktu lima sampai sepuluh tahun akan terjadi kecacatan tetap.
“Sedangkan pada stadium laten merupakan stadium dimana didalam tubuh seorang penderita itu masih ada bakteri frambusia tetapi tidak ada gejala klinis. Stadium laten terjadi antara stadium primer dan sekunder yang biasa disebut stadium laten awal, sedangkan antara sekunder dan tersier biasa disebut dengan stadium laten akhir,”terangnya.
Dijelaskan Devi, untuk frambusia ini bisa ditangani jika sudah diketahui gambaran penyakitnya, agar segera mendatangi Fasilitas Kesehatan atau Puskesmas terdekat untuk memastikan terlebih dahulu apakah penyakit tersebut memang benar-benar frambusia atau bukan dengan melakukan pemeriksaan di laboratorium.
“Apabila memang hasilnya positif maka didalam tubuh orang tersebut terdapat kuman atau bakteri frambusia,”tuturnya.
Kemudian Devi mengajak kepada masyarakat Kabupaten Nganjuk untuk berperan aktif dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit frambusia melalui gerakan masyarakat sehat yang dilakukan dengan cara meningkatkan PHBS (Pola Hidup Sehat dan Bersih) seperti menghindari berganti pakaian atau handuk dengan orang lain, kebersihan perorangan maupun kebersihan di lingkungan, ketersediaan jamban sehat, ketersediaan sarana air bersih serta menghindari kontak secara langsung dengan luka penderita.
“Dan apabila mengetahui seseorang yang menunjukkan gejala klinis pada penyakit frambusia agar segera datang ke Faskes atau Puskesmas terdekat,” tutupnya.