Penggunaan pupuk kimia atau anorganik saat ini masih marak di kalangan petani, tak terkecuali para petani di Desa Kedung Ombo, Tanjunganom. Maka perlu adanya penyuluhan dan edukasi guna meminimalisir penggunaan unsur kimia yang dapat merusak tanah. Hal itu disampaikan oleh Heri Subiyanto selaku PPL Dinas Pertanian dengan menggandeng Kelompok Tani Nugroho I Tanjunganom Nganjuk lewat acara Beranda Kominfo bersama Sahabat Tani 105,3 RSAL FM, Senin(10/10/2022) malam.
Sebagai penyuluh, Heri melihat bahwa kondisi tanah pertanian di Desa Kedung Ombo cukup memprihatinkan. Pasalnya, tanah disana minim akan unsur hara. Sehingga terpikirkan untuk menjalin kerjasama dengan kelompok tani dan pihak desa untuk mengajukan permohonan sebagian dari dana desa untuk dialokasikan ke bidang pertanian khususnya untuk kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik. "Jadi kita mengumpulkan kelompok tani Desa Kedung Ombo kita berikan pelatihan hingga akhirnya para petani mulai memahami dan terbuka akan pentingnya penggunaan bahan alami untuk tanaman pertanian", ujarnya.
Heri lantas menjelaskan bahwa pupuk organik yang bagus itu mulai dari proses pupuk organik yang belum terolah menjadi pupuk yang sudah terolah setidaknya membutuhkan waktu sekitar 21 hari. "Disitu ada proses dari bahan kotoran sapi kita campur dengan E4 kemudian kita padukan lagi, sampai akhirnya menjadi pupuk matang dan siap ditaburkan ke lahan pertanian", terangnya.
Selain dari limbah kotoran sapi ada komposisi lain yaitu dari arang sekam, dedak, tetes tebu dan air. Dengan menggunakan pupuk organik maka tanah akan menjadi lebih subur karena didalam pupuk organik ada kandungan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman, kemudian tanaman menjadi lebih cepat bertumbuh seragam dan produktifitasnya meningkat. "Sehingga kita dapat meminimalisir penggunaan pupuk anorganik/kimia. Sampai saat ini di Poktan Tanjunganom alhamdulillah sudah bisa mengurangi subsidi penggunaan pupuk anorganik", tuturnya.
Lebih lanjut Heri menginformasikan kepada seluruh masyarakat Kota Bayu jika ingin memperoleh pengetahuan mengenai proses pembuatan pupuk organik ini dapat berkonsultasi langsung ke Poktan Nugroho I Tanjunganom atau dapat juga datang ke Kantor BPP Tanjunganom. "Kami siap memfasilitasi dan memberikan penyuluhan pembuatan pupuk organik untuk seluruh masyarakat Nganjuk," pesannya.
Di sisi lain Sugiyono sebagai ketua Poktan Nugroho I Tanjuanganom berbagi pengalamannya tentang awal tercetus produk olahan pupuk organik karena ingin memanfaatkan limbah kotoran sapi yang ada di beberapa peternakan sapi di Desa Kedung Ombo dengan jumlah ternak sekitar 8000 ekor sapi. Akhirnya Sugiyono mengajukan program unit pengelolaan pupuk organik sudah sejak 2 tahun lalu. "Tahun 2019 direalisasikan untuk Poktan Nugroho I Tanjunganom mendapatkan fasilitas dari Dinas Pertanian berupa rumah kompos, ternak dan alat", ungkapnya.
Dengan pembinaan dan penyuluhan dari BPP Tanjunganom dan PPL Dinas Pertanian maka dirinya berinisiatif untuk mengolah limbah kotoran sapi tersebut menjadi pupuk organik yang sudah difermentasi.
"Saya awalnya menerapkan pemanfaatan limbah kotoran sapi itu di lahan pertanian saya. Dan akhirnya masyarakat melihat hasil tanaman saya yang bagus dan akhirnya meluas ke masyarakat", tuturnya.
Sementara itu Sri Mulyani Koordinator BPP Tanjunganom menambahkan bahwa, di Kecamatan Tanjunganom terdapat potensi utama hasil pertanian dan peternakan yaitu pada tanaman padi, jagung dan terdapat populasi sapi >100 ribu ekor. Selama ini kata Sri Mulyani sudah ada 120 kelompok tani dengan luas lahan sawah sekitar 4.300 hektare. "Melihat itu akhirnya sisa-sisa jerami kita berikan ke peternak sapi untuk mereka olah menjadi pupuk organik", paparnya.
Ia berharap kedepan masyarakat Kecamatan Tanjunganom khususnya poktan binaannya dapat terus kompak bekerjasama dalam memanfaatkan limbah kotoran sapi di desanya dalam rangka mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia.
"Semoga dengan begitu dapat kembali ke alam dengan memanfaatkan apa yang dihasilkan oleh alam", tutupnya.