Nganjuk, PING - Dokter spesialis kulit dan kelamin merupakan dokter yang fokus menangani beragam masalah kesehatan kulit dan kelamin, baik pada pria maupun wanita. Tugas dokter spesialis kulit dan kelamin adalah mendiagnosa dan memberikan penanganan sesuai dengan keluhan yang dirasakan. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Tritya Mudita, Sp.DV dari instansi Rumah Sakit Daerah (RSD) Kertosono saat menghadiri acara talkshow 105,3 RSAL FM pada Kamis (16/6/2022).
dr. Tritya menjelaskan bahwa untuk penyakit kulit yang ditangani oleh dokter spesialis kulit atau Dermatologi cukup banyak. Untuk penyakit kulit infeksi bisa seperti kusta, infeksi jamur, infeksi bakteri. Infeksi parasit seperti infeksi scabies, infeksi virus, dan beberapa penyakit auto imun. Sedangkan untuk spesialis Venerologi atau penyakit menular seksual seperti herpes, genital, gonore, dan raja singa.
“Penyakit kulit yang sering kami tangani di Kabupaten Nganjuk ialah gudik atau scabies. Biasanya penyakit ini banyak dijumpai di pondok, asrama, atau tempat-tempat yang padat penduduk,” ujarnya.
Penyakit kulit ini terjadi pada siapa saja, terutama anak-anak. Untuk gejala yang perlu diwaspadai antara lain gatal, ruam, muncul luka, dan kulit berkerak. Sedangkan untuk mengatasi gejalanya bisa dengan mengoleskan krim atau lotion yang mengandung permethrin, lindane, sulfur, atau crotamiton. Bisa juga dengan minum obat antihistamin, untuk meringankan rasa gatal dan obat ivermectin, untuk scabies yang bersifat luas dan berat. Serta dengan memberikan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri pada kulit anak.
Selanjutnya dr. Tritya menerangkan bahwa Penyakit Menular Seksual (STD) sering diakui sebagai hal yang tabu dan membawa stigma sosial. Orang - orang enggan untuk memberi tahu pasangan mereka dan datang ke dokter hanya ketika mereka memiliki gejala. STD adalah infeksi yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak seksual.
“Beberapa penyakit umum adalah infeksi HIV, sifilis, gonore, kandidiasis, herpes simplex, infeksi virus papiloma, kudis kelamin dan infestasi kutu kemaluan,”ujarnya.
Untuk menurunkan angka HIV / AIDS di Indonesia, ada rumus ABCD yang selama ini di sosialisasikan sebagai cara pencegahan HIV/AIDS :
Lebih lanjut, dr. Tritya mengatakan gejala alergi kulit terutama untuk kosmetik mungkin akan berbeda pada setiap orang. Beberapa orang mungkin akan mengembangkan gejala beberapa saat setelah penggunaan kosmetik. Sementara itu, tidak sedikit pula yang mengalami tanda-tanda alergi beberapa hari atau bertahun-tahun usai pemakaian. Ciri-ciri alergi produk kosmetik atau skin care (perawatan kulit) cukup beragam, tergantung pada tingkat keparahan dan area yang terpapar, seperti: gatal-gatal, ruam, kulit mengelupas dan melepuh, wajah dan kelopak mata membengkak, iritasi pada mata, hidung, dan mulut (konjungtivitis), dan terdapat nanah pada benjolan.
“Bagi warga Nganjuk diharapkan agar hati-hati saat menggunakan krim harus tau komposisinya apa, belinya dimana, ada sertifikat BPOM nya tidak. Kita harus cemat sebelum menggunakannya. Karena kalau sudah permanen memang sulit untuk pengobatannya,” pesannya.
Sebagai informasi, dr. Tritya praktek di RSD Kertosono, mulai pukul 8 pagi sampai pukul 11 siang di Poli Spesialis Kulit dan Kelamin. Juga di Graha Eksekutif Anjuk Ladang Kertosono. Sedangkan untuk praktek pribadi berada di wilayah Kelurahan Cangkringan Kecamatan Nganjuk. (Cs/Yos)