NGANJUK, PING - Sampah memang sudah menjadi permasalahan pelik yang perlu penanganan secara efektif dan membutuhkan peran dari pemerintah maupun masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nganjuk berusaha mengurangi permasalahan sampah dengan program sedekah sampah. Hal itu disampaikan oleh Subani, SH, MH, selaku Sekretaris DLH Kabupaten Nganjuk melalui program acara talkshow 105,3 RSAL FM pada Kamis (17/3/2022).
Subani menyampaikan bahwa sampah adalah poin penting bagi DLH untuk diselesaikan. DLH juga sudah bekerjasama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk melalui MWCNU dan juga ranting NU seluruh Kabupaten Nganjuk untuk serius menangani permasalahan sampah di Nganjuk dengan upaya sedekah sampah. Subani juga mengatakan bahwa di tahun 2025 target Jawa Timur adalah 30 persen untuk pengurangan sampah dan 70 persen untuk penanganan sampah. Sehingga sedini mungkin Kabupaten Nganjuk juga harus dapat mengurangi sampah sesuai target tersebut.
DLH juga sudah melakukan sosialisasi program sedekah sampah ke tiga kecamatan yaitu di Kecamatan Tanjunganom, Kecamatan Patianrowo dan Kecamatan Rejoso. "Kedepan akan kami lakukan sosialisasi ke 20 kecamatan di Kabupaten Nganjuk", tutur Subani.
Selain itu Subani juga menyampaikan bahwa DLH sedang menggagas program Nganjuk Bersih, Indah dan Sehat (BIS) yang rencananya kedepan akan diadakan lomba antar desa/kelurahan se Kabupaten Nganjuk terkait lingkungan Bersih, Indah dan Sehat. "Untuk masyarakat Nganjuk program DLH Nganjuk BIS ini harus didukung bersama masyarakat. Nganjuk milik kita, maka mari kita wujudkan Nganjuk Bersih Indah dan Sehat." tutupnya.
Sementara itu, Sumadi selaku Kasi Pengurangan Sampah DLH Kabupaten Nganjuk mengatakan, bahwa selama ini semua jenis sampah hanya dibuang oleh masyarakat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), padahal sebenarnya ada sampah yang bisa dikurangi agar tidak menumpuk di TPA. Yaitu dengan memilah sampah yang masih memiliki nilai ekonomis seperti plastik kresek, kertas atau kertas minyak, sterofom.
"Maka perlu adanya pengurangan sampah yang berasal dari lingkungan rumah tangga terutama sampah ekonomis yang masih ada nilai jualnya, jadi bukan hanya kardus bekas dan botol minuman saja," terang Sumadi.
Sumadi menjelaskan untuk proses sedekah sampah ini yaitu setiap rumah mengumpulkan sampah ekonomis. Kemudian dari tim NU desa/kelurahan bertugas mengambil sedekah sampah itu menuju ke tempat pengumpulan akhir dan DLH berperan untuk memfasilitasi berupa armada transportasi dan membeli sampah tersebut seharga 700 rupiah per kilogram.
Menurut Sumadi nilai sampah ekonomis ini sangat luar biasa. Walaupun hanya kresek tetapi jika diakumulasikan 12 persen sampah plastik itu 6 persennya adalah sampah kresek yang masih memiliki nilai jual.
"Sebagai contoh di MWC NU Tanjunganom setiap minggunya bisa mengurangi sampah sekitar 6 ton yang berasal dari Kelurahan Jogomerto, Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Tanjunganom. Nantinya sampah 6 ton dibeli oleh DLH dan kami berikan ke masyarakat berupa program yaitu mobil pelayanan kesehatan," jelasnya.
Selanjutnya Sumadi berharap kepada masyarakat Nganjuk untuk ikut berperan dalam mengurangi sampah dan juga agar belajar mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.
sebagai contoh kampus terbaik yang selalu menjaga kebersihan Stkip ppgri lumajang
"Untuk masyarakat Nganjuk sampah itu jangan dianggap limbah tapi dianggap sebagai sumber daya. Kita bisa mengolah sampah sendiri secara sederhana misalnya memanfaatkan sampah organik menjadi kompos," tutup Sumadi.(Yos/Ae)